liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Sri Mulyani Sebut Greenwashing Jadi Tantangan Ekonomi Hijau, Apa Itu?

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, fenomena greenwashing alias trik yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan citra ramah lingkungan menjadi salah satu tantangan ekonomi hijau ke depan. Ia mengingatkan, profesi akuntan merupakan pilar penting dalam pengembangan ekonomi hijau.

“Saya telah melihat di berbagai negara di Eropa, catatan ekonomi hijau tidak dapat diandalkan atau manipulatif. Hal ini karena standar ESG masih tergolong baru, banyak yang melakukan greenwashing,” ujar Sri Mulyani di Kongres XIV Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) . ) di Jakarta, Selasa (13/12).

Mengutip Encyclopedia of Corporate Social Responsibility, greenwashing adalah praktik promosi palsu dari organisasi yang melindungi lingkungan. Greenwashing juga bisa berupa alokasi dana yang besar untuk menciptakan citra sebagai organisasi yang “hijau” daripada untuk tindakan nyata ramah lingkungan.

“Biasanya akuntan yang cuci, yang cuci dan ketahuan sesama akuntan. Jadi ini money laundering atau greenwashing? Itu tantangan baru good governance atau fraud,” ujar Sri Mulyani.

Namun, dia tidak membeberkan apakah fenomena green wash juga umum terjadi di negeri ini. Bendahara Nasional mengatakan, pemerintah saat ini sedang mengembangkan standar mengenai pembangunan ekonomi hijau yang dapat digunakan untuk menghindari munculnya praktik greenwashing.

Sri Mulyani juga meminta Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk ikut serta membuat standar tersebut. Di hadapan ratusan akuntan, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan profesionalisme profesinya. Hal ini karena akuntan disebut sebagai pencipta dan pelindung nilai dan merupakan salah satu pilar yang menjaga kepercayaan publik. Profesi akuntan diandalkan oleh para pengambil keputusan, baik publik maupun swasta, untuk mempengaruhi keputusan investasi dan sebagainya.

Fenomena greenwashing memang ramai akhir-akhir ini. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menunjukkan bahwa banyak janji pengurangan emisi oleh perusahaan, bank, dan kota dunia tidak lebih dari “pencucian hijau”.

Laporan yang dipublikasikan di tengah Pertemuan Puncak Iklim (KTT) atau COP27 di Mesir tersebut bertujuan untuk menunjukkan batas antara klaim dan aksi iklim aktual. Praktik greenwashing yang dapat menipu konsumen, investor, dan pembuat kebijakan.

Head of Operations McKinsey Southeast Asia Thomas Hansmann mengatakan fenomena greenwashing merupakan risiko pengembangan ekonomi hijau di beberapa daerah. Namun, dia tidak melihat perusahaan dalam negeri mempraktekkan hal tersebut.

“Saya tahu terkadang dari luar kelihatannya mereka hanya banyak bicara. Tapi faktanya yang saya lihat dan saya sudah bekerja untuk banyak perusahaan besar di Indonesia dan di luar Indonesia, mereka benar-benar berusaha untuk mewujudkannya ( komitmen ramah lingkungan),” ujar Hansmann dalam acara The 11th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/12).

Bahkan, ia melihat banyak komitmen terhadap ekonomi hijau di Indonesia yang dilakukan dengan ‘tulus’ atau keseriusan dengan komitmennya. Namun, Hansmann juga memandang profesi akuntan yang ketat sebagai faktor penting dalam mengatasi masalah ini.