liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Profil Megawati, Wanita Paling Berpengaruh dalam Politik Indonesia

Keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri soal capres 2024 sudah ditunggu banyak pihak. Sebagai partai yang berkuasa saat ini, siapa pun yang dipilih Megawati akan memiliki pengaruh besar dalam perpolitikan Indonesia.

Saat berbicara di perayaan HUT ke-50 PDIP, Megawati tak menyebut nama secara spesifik. Di sisi lain, ia banyak membahas tentang peran perempuan dalam politik.

“Kenapa kamu menunggu sekarang (kenapa kamu menunggu sekarang). Tidak tersedia. Urusan saya,” kata Megawati dalam tayangan video pidatonya di Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2023).

Ketua umum PDIP itu menambahkan, dirinya memiliki hak prerogatif untuk menentukan calon presiden. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif di pemerintahan Joko Widodo, pengaruh Megawati masih sangat terasa. Putri Presiden Soekarno ini memiliki catatan panjang dalam perpolitikan Indonesia, terutama sejak tahun 1990-an.

(Baca: Sejarah Pencalonan Presiden oleh PDIP: dari Megawati hingga Jokowi)

Jauh sebelum menduduki tampuk PDIP, Megawati mengawali karir politiknya melalui Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Bergabung dengan GMNI saat belajar Ilmu Pertanian di Universitas Padjadjaran di Bandung, Jawa Barat, antara tahun 1965 dan 1967.

GMNI adalah organisasi mahasiswa di luar kampus yang berafiliasi dengan partai yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden Soekarno, Partai Nasional Indonesia (PNI). Ini mengikuti kedekatan ideologi antara GMNI dan ayah Megawati. Organisasi itu menulis bahwa “asas GMNI adalah ajaran marhaenisme Bung Karno.”

Megawati bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1986. PDI merupakan hasil penggabungan dari PNI, Partai Permusyawaratan Rakyat (Murba), Partai Persatuan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) , dan Partai Katolik.

Bergabung dengan PDI memungkinkan Megawati terpilih menjadi anggota DPR pada tahun 1987 mewakili Jawa Tengah. Ini adalah postingan publik pertama Megawati. Ia menjabat sebagai anggota DPR sampai tahun 1997.

“Suaranya yang lembut, tatapan matanya yang tajam, serta nama yang melekat padanya, Soekarno berhasil membangkitkan semangat massa dan membawanya kembali berlaga di Pemilu 1992,” tulis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Buku Presiden Republik. Indonesia 1945-2014 oleh Julius Pour.

Di sela-sela karir DPR-nya, Megawati terpilih menjadi ketua PDI pada kongres luar biasa partai pada 1993. Kemenangan Megawati memecah PDI menjadi dua kubu, kubu yang mendukungnya dan kubu yang tidak.

Perpecahan PDI terkait dengan penolakan pemerintahan Presiden Soeharto untuk mengakui kemenangan Megawati. Pemerintah mendukung ketua petahana PDI Soerjadi, yang terpilih kembali dalam kongres 1996. Namun, kongres ini tidak mengundang Megawati.

Menanggapi hal itu, Megawati mendirikan partai baru dengan pendukungnya dari PDI pada 1999, PDIP. Dia telah memimpin pesta banteng ini selama 23 tahun sejak awal.

Bersama PDIP, karir politik Megawati memasuki babak baru pada tahun 1999. Megawati pertama kali mencalonkan diri sebagai calon presiden dari PDIP. Ia kalah dengan 44,72% suara dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun, Megawati berhasil terpilih menjadi wakil presiden Presiden Gus Dur. Dalam perebutan posisi wakil presiden, ia meraih 56,57% suara dan mengalahkan Hamzah Haz.

Karier politik Megawati mencapai puncaknya pada tahun 2001 saat ia menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Pasalnya, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menuduh Gus Dur. Megawati dengan demikian menjadi presiden wanita pertama Indonesia.

Namun, karir kepresidenan Megawati berakhir pada 2004. Perempuan yang hobi berkebun dan menari ini gagal memenangkan pemilihan presiden 2004 dan 2009. Dalam kedua pemilihan itu, ia kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan pasangan wakil presidennya.

Saat ini, Megawati menjabat sebagai pimpinan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sejak 2017. Badan ini bertugas merumuskan sila-sila Pancasila. Selain itu, posisi ini memungkinkan Megawati duduk sebagai Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).