liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
PLN NTB Manfaatkan FABA untuk Bangun Infrastruktur

Tahun lalu, Perusahaan Listrik Negara Unit Induk Barat (PLN UIW NTB) Nusa Tenggara Barat mengolah lebih dari 30.000 ton fly ash base ash (FABA). FABA yang merupakan limbah PLTU diolah menjadi bahan bangunan.

FABA dihasilkan dari dua lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di NTB, yaitu PLTU Jeranjang dan PLTU Sumbawa Barat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB Julmansyah mengapresiasi langkah PLN tersebut. Menurutnya, penggunaan FABA telah menggerakkan perekonomian di NTB.

“FABA yang selama ini tidak memiliki nilai guna kini menjadi sumber daya yang dapat meningkatkan perekonomian di suatu daerah atau desa. Masyarakat bisa membuat FABA berbagai bentuk bahan untuk pembangunan,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (18/1).

Salah satu kelompok masyarakat yang mendapat manfaat dari FABA adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mandiri Sukses di Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat. Ketua BUMDES Sukses Mandiri Firman mengakui program pemanfaatan FABA berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi penduduk.

“Kami sangat berterima kasih kepada PLN karena telah menerima bantuan yang sangat bermanfaat bagi Kampung Manemeng. Apalagi ini hal baru terkait penggunaan PLTU FABA yang ternyata memiliki potensi besar,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager PLN UIW NTB, Sudjarwo mengungkapkan penggunaan FABA merupakan tindakan PLN dalam mengolah sisa operasional pembangkit. Bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, PLN mensosialisasikan penggunaan FABA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pria yang kerap disapa Djarwo itu menjelaskan, PLN bekerja sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bersama-sama mengolah FABA. Bahan baku yang diproduksi antara lain paving block, batu bata, mortar, bahan konstruksi jalan, beton struktural, gerabah, semen pozolanik, dan tetrapoda untuk menahan erosi pantai.

“FABA bukan hanya limbah, limbah PLTU justru menjadi katalis penggerak perekonomian. Harapannya, ekonomi sirkular dapat terwujud, tidak hanya bagi masyarakat sekitar PLTU, tetapi bagi seluruh masyarakat NTB secara umum,” jelasnya.

Djarwo mengungkapkan, penggunaan FABA di NTB diserap untuk beberapa kategori. Sebanyak 24.300 ton FABA dari PLTU Jeranjang digunakan untuk internal, dan 2.700 ton digunakan untuk instansi pemerintah, seperti pemantapan Padang Brimob di kawasan Ampenan, Kota Mataram.

Kemudian sebanyak 2.700 ton FABA digunakan oleh kelompok masyarakat seperti Pusat Magot di Desa Rembiga, Kecamatan Selaparang, Mataram. Selain itu, FABA sebanyak 250 ton digunakan oleh 38 UKM di Pulau Lombok untuk pembangunan masjid, selain Program Kampung Iklim binaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah NTB.

Sedangkan dari PLTU Sumbawa, FABA digunakan untuk internal sebanyak 1.150 ton, oleh pelaku UKM sebanyak 2.100 ton, oleh instansi sebanyak 82 ton, dan kelompok masyarakat sebanyak 161 ton.

Djarwo menuturkan, PLN membuka peluang bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan FABA menjadi produk bernilai tinggi. “Upaya yang dilakukan PLN merupakan komitmen perusahaan terhadap prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola dalam menciptakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.