liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
PLN Klaim 1000 Pelanggan Baru Gunakan EBT, Tambah Bayar Rp 30 Per kWh

PT PLN mengklaim telah menyalurkan Renewable Energy Certificate (EBT) atau Sertifikat Energi Terbarukan (REC) kepada lebih dari 1.000 pelanggan bisnis dan industri hingga pertengahan Desember 2022. Pencapaian ini melebihi target akhir tahun sebanyak 700 pelanggan.

Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN Warsono menjelaskan harga yang ditetapkan perseroan untuk pembelian REC adalah Rp 30 per saham. Dengan menjadi pelanggan listrik REK, tarif listrik pengguna akan dinaikkan sebesar Rp 30 per kilowatt hour (kWh).

“Jadi REC-nya di atas tarif normal. Misalnya tarif awal Rp 1.400, kemudian tambahan Rp 30 per KWh. Itu saja,” kata Warsono saat ditemui di Hotel Dharmawangsa Jakarta, Senin (19/12). ). ).

Dia mengatakan, lonjakan permintaan sertifikat EBT didominasi oleh perusahaan yang berada di kawasan industri yang umumnya memproduksi komoditas untuk pasar ekspor. Selain itu, lonjakan permintaan REK didasarkan pada tren bisnis global yang hanya mau menerima komoditas yang berasal dari produksi listrik bersih.

Melalui REC, pelanggan juga mendapatkan pengakuan untuk menggunakan listrik EBT. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya investasi untuk pembangunan infrastruktur pembangkit listrik energi bersih.

“Karena ada ESG ya. Kalau pelaku usaha mendapatkan REC, mereka bisa mengklaim listriknya berasal dari sumber energi terbarukan. Sehingga produknya bisa diterima di luar negeri,” ujar Warsono.

Saat ini pembangkit energi hijau milik PLN yang terdaftar di APX adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dengan kapasitas 140 MW, PLTP Lahendong 80 MW dan PLTA Bakaru 130 MW dengan jumlah setara 2.500.000 MWh per tahun. Tidak hanya dari pembangkit EBT milik PLN, sumber listrik untuk layanan REC juga bisa berasal dari pembangkit listrik EBT milik pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP) yang menjual listriknya ke PLN.

“REC PLN Rp 30 per kWh, jadi cukup murah dan banyak peminat terutama dari industri yang menggunakannya,” kata Warsono.

Sebelumnya, PLN telah menyalurkan listrik hijau 1 Terawatt hour (TWh) atau setara 1.000 gigawatt hour (Gwj) melalui layanan REC kepada 233 pelanggan bisnis dan industri hingga Oktober 2022. Beberapa perusahaan yang telah membeli sertifikat EBT dari PLN antara lain Nike, H&M, Toyota, Uniqlo dan HM Sampoerna.

Direktur Ritel dan Perdagangan PLN, Edi Srimulyanti mengatakan, seluruh pelanggan bisnis dan industri yang memiliki REK akan disuplai listrik dari EBT.

Lebih lanjut, kata Edi, sebenarnya PLN sudah mendaftarkan REK 3 TWh untuk penyediaan listrik hijau sehingga masih ada 2 TWh yang belum tersalurkan. Untuk memaksimalkan penggunaan listrik hijau di dalam negeri, PLN terus mendorong beberapa institusi, perusahaan, dan individu untuk membeli REK.

“Jadi masih sisa 2 TWh. Kalau ada yang mau ikut pakai REC, kami welcome. Tantangannya saat ini belum semua orang tahu bahwa REC PLN berstandar internasional,” ujar Edi saat menjadi pembicara di acara Cut the Tosh KTT Kerjasama di Thamrin Nine Ballroom Jakarta, Selasa (18/10).