liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Mengenal Abdoel Rivai, Dokter yang Menjadi Perintis Pers Indonesia

Dunia pers Indonesia memiliki sejarah panjang. Ada beberapa pelopor jurnalisme nasional yang terkenal, misalnya BM Diah, Roehana Koeddoes, Sayuti Melik, dan SK Trimurti.

Namun, ada satu nama yang mungkin luput dari perhatian banyak pihak, yang ternyata turut andil dalam pergerakan pers nasional. Orang yang dimaksud adalah dr. Abdul Rivai.

Dalam rangka Hari Pers Nasional, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengangkat nama Abdoel Rivai, sebagai dokter, sekaligus jurnalis. Ketua Dewan Umum IDI Dr. Tn. Adib Khumaidi, SpOT mengatakan bahwa pemikiran Abdoel Rivai menginspirasi Dr. Wahidin Sudirohusodo membentuk organisasi Boedi Oetomo.

Menarik untuk ditelaah sosok Abdoel Rivai, pendidikannya, dan aktivitasnya sebagai jurnalis. Ini ulasan lengkapnya.

Masa Kecil dan Pendidikan Abdoel Rivai

Abdoel Rivai lahir di Agam, Sumatera Barat pada 13 Agustus 1871 dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria. Ia tergolong anak yang cerdas, dimana pada usia 15 tahun ia berhasil diterima di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sebuah sekolah kedokteran di Hindia Belanda.

Dia lulus dari sekolah kedokteran pada tahun 1894 dan menjadi dokter untuk pemerintah kolonial di provinsi Deli, Sumatera Utara. Setelah itu, pada tahun 1899 ia mencoba melanjutkan studi kedokterannya di Utrecht dan Universitas Amsterdam.

Namun, ia tidak mendapat izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Willem Rooseboom. Baru pada tahun 1904 ia dapat melanjutkan studi kedokterannya di Belanda.

Abdoel Rivai adalah orang pribumi pertama yang belajar kedokteran di Belanda. Ia berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1907, kemudian melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Gent, Belgia. Ia menyelesaikan gelar doktornya hanya dalam waktu satu tahun, dan tercatat sebagai pribumi pertama yang menerima gelar doktor di Eropa.

Di Belanda itulah Abdoel Rivai bertemu dan terlibat dalam dunia yang berbeda dengan studinya. Dunia yang dimaksud, adalah jurnalisme.

Perkenalan Abdoel Rivai dengan dunia jurnalistik

Mengutip National Geographic, kedekatan Abdoel Rivai dengan dunia jurnalistik berawal dari aktivitas menulisnya saat menunggu izin masuk sekolah kedokteran di Amsterdam. Di Belanda, ia cukup rajin menulis untuk surat kabar atau surat kabar, seperti Algemeen Handelsblad dan Oost en West.

Meskipun ia menulis untuk pers Belanda, ia tergolong sebagai juara bahasa Melayu, dan kebutuhan untuk mendidik orang Eropa tentang Hindia Belanda.

Dari pemikiran tersebut, ia kemudian mendirikan surat kabar bernama Pewarta Wolanda pada tanggal 14 Juli 1900. Surat kabar tersebut merupakan surat kabar pertama milik pribumi yang terbit di luar negeri.

Wartawan Wolanda secara teratur menerbitkan artikel pendidikan untuk orang Eropa tentang koloni di timur jauh yang disebut Hindia Belanda.

Melalui surat kabar ini, ia menyebarkan pengetahuan di Belanda tentang apa yang ada di Hindia Belanda, serta mempromosikan budaya dan sifat ramah masyarakat Hindia Belanda. Bentara Wolanda kemudian mengalami kesulitan operasional pada tahun 1901, karena kekurangan dana.

Untuk menjaga idenya tetap hidup, ia menggabungkan Koran Holanda dengan Chabar Soldadoe Letter, media yang didirikan oleh mantan perwira Koninklijk Nederlands(ch)-Indisch Leger (KNIL), HCC Clockener Brousson. Hasil dari merger tersebut adalah sebuah surat kabar bernama Bendera Wolanda.

Selain Bendera Wolanda, ia bersama Brousson juga membuat surat kabar bernama Bendera Indies pada tahun 1902. Melalui surat kabar ini, ia banyak menulis gagasan tentang bagaimana memajukan penduduk asli Hindia Belanda. Ia juga menulis beberapa artikel tentang nasehat dan cara belajar di Belanda.

Abdoel Rivai juga memperkenalkan istilah-istilah baru seperti “kaoem moeda” dan “kemuliaan pemikiran”. Dia menggunakan dua istilah ini untuk menjelaskan pentingnya ilmu dan kecerdasan bagi kaum pribumi agar bisa mengejar kemajuan seperti bangsa Eropa.

Bintang Indies adalah salah satu surat kabar pertama yang menekankan penggunaan foto. Koran ini diketahui memuat banyak gambar keindahan alam Hindia Belanda, lengkap dengan kemajuan masyarakat di daerah jajahan.

Pada tahun 1907 Abdoel Rivai memutuskan untuk meninggalkan Star of the Indies, untuk menyelesaikan studi medisnya dan mengikuti ujian doktoralnya di Belgia. Namun, ia masih cukup aktif dalam jurnalisme, berkontribusi pada Colonial Weekblad dan Algemeen Handelsblad.

Setelah menyelesaikan studinya, Abdoel Rivai kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1910 dan menetap di Batavia. Ia kemudian bekerja sebagai redaktur di Bintang Timur. Di Batavia, Abdoel Rivai terus aktif menulis tentang pentingnya pendidikan, serta persamaan hak penduduk asli dan Eropa di Hindia Belanda.

Untuk kegiatan ini, ia kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda, atau Volksraad. Ia menjadi anggota dari tahun 1918 hingga 1925. Setelah menjalankan tugasnya sebagai anggota Volksraad, ia berkelana ke berbagai negara selama beberapa tahun, hingga menetap di Negeri Belanda.

Mengutip Tirto, di Belanda ia menjadi pembimbing bagi pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di sana, seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdoelmadjid Djajadiningrat, Nazir Datoek Pamoentjak, dan lain-lain.

Pada tahun 1932, ia kembali ke tanah airnya dan membuka klinik kesehatan di Tanah Abang, Batavia, sambil terus menulis di beberapa surat kabar. Namun karena gangguan kesehatan, Abdoel Rivai kemudian pindah ke Bandung hingga meninggal dunia pada 16 Oktober 1937.

Atas jasa-jasanya dalam dunia jurnalistik, pada tahun 1974 Pemerintah Republik Indonesia (RI) menganugerahi Abdoel Rivai gelar Pelopor Pers.

COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21