liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Inpex Akuisisi 31,35% Saham Proyek Panas Bumi Rajabasa Lampung

Anak usaha perusahaan minyak dan gas asal Jepang, Inpex Corporation, yaitu Inpex Geothermal Ltd, resmi bergabung dalam proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Keikutsertaan Inpex di PLTP Rajabasa ditandai dengan akuisisi 31,45% saham PT Supreme Energy Rajabasa yang dimiliki oleh perusahaan utilitas Prancis, Engie.

“Inpex mengumumkan telah berpartisipasi dalam Proyek Panas Bumi Rajabasa di Indonesia melalui Inpex Geothermal Ltd,” tulis Inpex dalam siaran pers yang dikutip Senin (9/1).

Proyek HPP Rajabasa masih dalam tahap eksplorasi. Sebagai pengembang bisnis PLTP Rajabasa, Engie bersama Sumitomo Corporation dan PT Supreme Energy telah melakukan survei permukaan dan geofisika yang menghasilkan laporan potensi sumber daya panas bumi di Gunung Rajabasa.

“Hal ini diharapkan dapat berkontribusi pada perluasan bisnis panas bumi Inpex lebih lanjut di Indonesia,” kata Inpex.

Dalam pengembangan proyek PLTP Rajabasa, Inpex akan menerapkan praktik teknologi yang dilakukan perseroan dalam pengembangan eksplorasi dan eksploitasi di sektor migas.

“Inpex akan mengakselerasi inisiatifnya untuk bisnis pembangkit listrik panas bumi dengan menggunakan teknologi yang dicari perusahaan melalui pengembangan minyak dan gas bumi,” kata Inpex.

Sebelumnya, Inpex juga telah berpartisipasi dalam proyek PLTP di Rantau Dedap, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan melalui akuisisi 27,4% saham Engie.

Sebelum masuknya Inpex, proyek PLTP dikerjakan bersama melalui skema Joint Venture (JV) antara Engie, Marubeni Corporation, Tohoku Electric Power Co., Inc. dan perusahaan swasta Indonesia PT. Energi Tertinggi.

“Inpex bekerja untuk meningkatkan dan menekankan inisiatif energi terbarukan, yang merupakan salah satu dari 5 bisnis net zero yang digariskan dalam ‘Inpex Vision 2022’,” tulis manajemen Inpex dalam siaran pers yang dikutip Senin (31/10/2022).

Direktur Utama PT. Supreme Energy, Nisriyanto, mengatakan keikutsertaan Inpex memperkuat sinergi dalam pengoperasian PLTP di Kawasan Dedap. Ia pun yakin, masuknya Inpex akan sangat membantu Supreme Energy meningkatkan kapasitas pembangkitannya.

“Inpex memiliki 27,4% saham di PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD), dengan latar belakang Inpex di industri migas di Indonesia selama ini, tentunya kami menyambut baik keikutsertaan Inpex,” kata Nisriyanto melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (31/ 31). 10/2022).

Sebagai informasi, PLTP Rantau Dedap saat ini beroperasi secara komersial dengan kapasitas 98,4 mega watt (MW) dan menghasilkan volume listrik setara konsumsi tahunan sekitar 450.000 rumah tangga di Sumatera.

Listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik yang menggunakan sumber panas bumi ini rencananya akan dipasarkan ke pembangkit listrik PLN untuk jangka waktu 30 tahun sejak mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2021. PLTP Rantau Dedap memiliki 6 sumur eksplorasi berupa RD- B1, RD-B2, RD-C1 , RD-I1, RD-I2, RD-C2.