liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Ini Kelebihan Bioenergi Dibandingkan PLTS dan EBT Lainnya

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM terus mendorong penerapan bioenergi untuk mencapai target bauran energi baru dan terbarukan atau EBT sebesar 23% pada tahun 2025. Penerapan bioenergi dinilai sebagai alternatif di tengah percepatan input pasokan energi terbarukan yang masih belum maksimal.

Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal EBT dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Edi Wibowo mengatakan, sumber daya bioenergi biasanya diperoleh dari hutan, ladang energi, tanaman minyak nabati, dan limbah atau sampah.

Edi menuturkan, pemanfaatan bioenergi bisa lebih optimal karena berada langsung di bawah kendali manusia. Hal ini berbeda dengan sifat energi terbarukan yang sangat bergantung pada kondisi alam, seperti matahari, air, angin, arus laut, dan sumber energi panas bumi.

Dikatakannya, pemanfaatan bioenergi bisa menjadi pilihan bahan bakar, terutama untuk memasak dan sumber pemanas. Selain itu, bioenergi juga dapat dimanfaatkan untuk sektor transportasi dan pembangkit listrik guna mengurangi karbondioksida dari penggunaan bahan bakar fosil.

“Sumber daya bioenergi sangat bergantung pada eksploitasi manusia. Jika kita ingin mengembangkannya, maka sumber daya itu akan terjaga dengan baik,” kata Edi dalam agenda bertajuk ‘Easy Launch Pilot Project Kemitraan Bisnis Biomassa dan Batubara di Sumsel’, Kamis. (22/22/2019). 12).

Menurut catatan Kementerian ESDM, potensi pemanfaatan bioenergi dalam negeri mencapai 57 giga watt (GW) dengan realisasi sejauh ini baru sebesar 3.073 mega watt (MW). Sumber utama bioenergi adalah hutan taman energi yang umumnya terdiri dari kayu akasia, pongam, kayu putih, kaliandra, turi, dan lamtorogung.

Selain itu, terdapat sumber tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti minyak sawit, bunga matahari, tebu, kedelai, jarak, jagung dan zaitun. Kemudian ada limbah yang berasal dari berbagai sumber seperti limbah hutan, pertanian, peternakan, limbah kota hingga kotoran manusia.

“Bioenergi ini juga dipengaruhi oleh karakteristik daerah setempat, dan ini terus berkembang,” kata Edi.

Pemanfaatan bioenergi yang paling signifikan adalah pembuatan biodiesel 30 atau B30 yang merupakan campuran 30% minyak sawit dan 70% solar. Selain itu, ada pula campuran biomassa sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU).

Selama ini Kementerian ESDM mengklasifikasikan pemanfaatan bioenergi ke dalam empat sektor, yakni sektor pembangkit listrik, bahan bakar nabati atau biofuel, biomassa, dan biogas. Dari catatan kementerian, kontribusi bioenergi di sektor pembangkit listrik saat ini masih sebesar 3 GW dari target 2025 sebesar 5,5 GW.

Di sektor konsumsi bahan bakar nabati, capaian pemerintah masih sebesar 9,7 juta kiloliter (kl) dari target 2025 sebesar 13,9 juta kl. Lebih lanjut, pemerintah juga telah menetapkan target konsumsi biomassa sebesar 10,2 juta ton pada tahun 2025, dengan realisasi saat ini baru mencapai 0,45 juta ton.

Sedangkan realisasi konsumsi biogas sebesar 37 juta m3 dari target tahun 2025 sebesar 490 juta m3. “Diharapkan dalam tiga tahun ke depan terjadi peningkatan yang signifikan melalui wajib B30 dan co-firing biomassa di PLTU,” kata Edi.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi yang baru, Dadan Kusdiana mengatakan, pemerintah mulai konsisten menggalakkan input listrik bersih 500 megawatt (MW) per tahun. Angka input tersebut relatif kecil jika mengacu pada bauran listrik EBT baru yaitu sekitar 12,6% dari total bauran energi nasional pada tahun 2022.

“Dari sisi persentase memang tidak terlalu bagus, tapi dari sisi pembangkit terus kami tambahkan, setiap tahun rata-rata 500 MW berasal dari pembangkit EBT,” kata Dadan, Kamis (22/12).

Penggunaan energi terbarukan di Indonesia terus meningkat selama beberapa tahun terakhir, sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengejar target emisi nol bersih.

Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 pangsa energi terbarukan hanya 4,9% dari bauran energi negara. Kemudian angka tersebut terus meningkat hingga mencapai 12,16% pada tahun 2021, seperti terlihat pada grafik.