liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Dutch Disease, Penyakit Makroekonomi yang Intai Indonesia

Situasi ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda terkena Dutch Disease alias ‘penyakit Belanda’. Salah satu gejalanya adalah kontribusi industri manufaktur yang terus menurun terhadap PDB Indonesia selama satu dekade terakhir.

Bank Dunia juga telah memperingatkan Indonesia tentang risiko ini, melalui tiga tolok ukur. Menurut Badan tersebut, ekspor Indonesia masih terfokus pada industri padat komoditas. Kemudian, tingkat kecanggihan manufaktur Indonesia paling rendah di antara negara-negara di Asia Timur. Dan ketiga, kontribusi Indonesia terhadap ekspor global juga tidak berubah, bahkan lebih rendah dari negara Asia Timur lainnya.

Indikator ini ditangkap oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam paparannya pada peluncuran Prospek Ekonomi Indonesia di Jakarta, Kamis (15/12) lalu. Ia melihat adanya gangguan pasokan di tingkat global yang menyulitkan berbagai negara dalam proses pemulihan. Akibatnya, inflasi harga komoditas dan bahan bakar dapat terjadi dengan sangat cepat.

“Situasi saat ini sepertinya sama dengan tahun 1970-an dan 1980-an, ketika terjadi ledakan komoditas. Pada saat yang sama, untuk mengatasi penyakit Belanda, kita juga berurusan dengan hal yang sangat penting yaitu kualitas manusia Indonesia. sumber daya,” kata Sri Mulyani dalam peluncuran Prospek Ekonomi Indonesia edisi Desember 2022 di Jakarta, Kamis (15/12).

Situasi ini dapat dilihat dari data kontribusi industri manufaktur dan pertambangan terhadap PDB Indonesia selama satu dekade terakhir. Selama periode tersebut, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus menurun, bahkan meningkat sejak 2021 akibat lonjakan harga komoditas. Di sisi lain, tingkat kontribusi industri pertambangan yang merupakan sektor berbasis komoditas terus meningkat dalam dua tahun terakhir.

Apa itu Penyakit Belanda?

Istilah penyakit Belanda pertama kali muncul pada tahun 1977 di kolom Business Brief majalah The Economist. Sebuah artikel yang diterbitkan pada 26 November 1977 menganalisis krisis yang dialami Belanda ketika negara itu menemukan cadangan gas alam di Groningen pada tahun 1959.

Komoditas baru tersebut awalnya mendongkrak nilai ekspor minyak negeri Kincir Angin tersebut sehingga mata uang Guilder Belanda pun melambung tinggi. Namun, produk ekspor Belanda lainnya kurang mampu bersaing di pasar global. The Economist mencatat bahwa produksi industri Belanda tidak meningkat sama sekali sejak tahun 1974, dan tingkat lapangan kerja di sektor tersebut telah turun sebesar 16% sejak tahun 1970.

Meski begitu, ekonomi Belanda masih terlihat tangguh dari luar. Pertama, Gulden telah meningkat sebesar 16,4% sejak Desember 1971 jika dilihat dari indeks dolar tertimbang perdagangan. Kemudian, keuangan negara yang menunjukkan defisit US$ 130 juta per tahun antara tahun 1967 dan 1971, justru berubah menjadi surplus antara tahun 1972 dan 1976. Kenaikan tajam harga minyak menjadi pemicunya.

Singkat kata, fenomena ini menjelaskan paradoks bahwa kabar baik seperti penemuan cadangan minyak ternyata bisa berdampak buruk dalam jangka panjang. Investopedia mengatakan fenomena ini biasanya dimulai dengan masuknya uang asing dalam jumlah besar untuk mengeksploitasi sumber daya yang baru ditemukan. Selain itu, gejala dari fenomena ini adalah peningkatan nilai tukar yang diikuti dengan penurunan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

“Perbedaan sehat lahiriah dan sakit lahiriah adalah gejala penyakit Belanda,” tulis majalah The Economist.

Implikasi bagi Indonesia

Pandangan berbeda muncul dari ekonom Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky. Menurutnya, penyakit belanda tidak hanya dilihat dari menguatnya sektor komoditas yang menekan industri manufaktur. Biasanya fenomena ini terjadi ketika ekonomi suatu negara sangat bergantung pada pertumbuhan yang bergantung pada komoditas.

Namun, dia melihat penyakit ini sudah mulai sering menjangkiti Indonesia sejak beberapa dekade terakhir. Gejalanya terlihat pada empat hingga lima kuartal terakhir, yakni sejak lonjakan harga komoditas pada kuartal III 2021.

“Risiko ini cukup nyata dan sebenarnya ada tanda-tanda bahwa setiap harga komoditas naik, penerimaan negara naik signifikan. Pada akhirnya, pengeluaran bergantung pada siklus harga komoditas. Ini merupakan gejala Dutch Disease, dimana kinerja penerimaan, belanja dan pertumbuhan ekonomi bergantung pada kinerja harga komoditas,” kata Riefky.

Lonjakan harga komoditas sejak tahun lalu membuat neraca perdagangan Indonesia berulang kali membukukan rekor ekspor yang positif. Situasi ini diperparah dengan perang di Ukraina yang telah meningkatkan harga energi dan pangan dunia.

Di Indonesia, efek dari booming komoditas yang menyebabkan penyakit Belanda bisa membuat negara terlena dan terus bergantung pada komoditas untuk pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, ekonomi Indonesia bisa melambat saat harga komoditas turun.

Begitu pula dengan arus investasi ke sektor produktif yang berpotensi menurun karena dialihkan ke sektor komoditas. Riefky mengatakan, porsi pinjaman ke sektor komoditas seperti kelapa sawit di Indonesia masih relatif besar.

“Bahaya lainnya, ini akan membatasi ruang fiskal pemerintah untuk menerapkan kebijakan counter-cyclical jika pendapatan bergantung pada harga komoditas,” kata Riefky.