liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Profil Vale Indonesia, Raksasa Nikel Asal Brasil Incaran Pemerintah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan kembali rencana pemerintah menasionalisasi perusahaan tambang PT Vale Indonesia. Perusahaan menjadi semakin penting di tengah upaya pemerintah untuk memajukan industri hilir nikel.

Pemerintah berencana menguasai sekitar 51% saham Vale Indonesia melalui perusahaan milik negara. Pelepasan saham atau divestasi merupakan syarat bagi perusahaan seperti Vale Indonesia untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus (IUPK). Kontrak kerja Vale Indonesia saat ini berlaku hingga akhir tahun 2025.

Erick mengatakan, Senin (2/1/2022), pemerintah telah membahas rencana divestasi saham Vale Indonesia dalam rapat terbatas. Keputusan ini juga telah dinegosiasikan dengan Presiden Joko Widodo dan para menteri terkait.

(Baca: BUMN Bakal Terlibat Penjualan Vale)

Nasionalisasi Vale Indonesia akan menandai babak baru perkembangan industri nikel dalam negeri. Perusahaan tersebut adalah bagian dari Vale, raksasa pertambangan global dari Brasil. Vale adalah salah satu produsen bijih besi dan nikel terbesar.

Pemerintah menguasai 20% saham Vale Indonesia melalui holding BUMN pertambangan MIND ID. Vale Canada menguasai 43,79%, perusahaan tambang Jepang Sumitomo Metal Mining menguasai 15,03%, dan publik menguasai sisanya.

Indonesia hanyalah salah satu dari sedikitnya 27 negara tempat Vale menambang. Raksasa pertambangan Brasil telah beroperasi di negara penghasil nikel terbesar di dunia sejak 1968.

Vale hadir di Indonesia hanya satu tahun setelah pemberlakuan UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). Penanaman modal asing langsung ke berbagai industri di Indonesia meningkat mengikuti undang-undang tersebut.

Di Indonesia, Vale Indonesia fokus pada penambangan dan pengolahan nikel. Dengan kontrak karya saat ini, perusahaan berkode saham INCO ini beroperasi di lahan seluas 118.017 hektare (ha). Sebagian besar berada di Sulawesi Selatan, namun tersebar juga di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Operasional Vale Indonesia dipusatkan di Sorowako, sebuah desa di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ini adalah lokasi fasilitas pengolahan nikel perusahaan. Desa ini diperkirakan memiliki 61,9 juta ton cadangan nikel terbukti.

Vale Indonesia melaporkan fasilitas pengolahannya di Sorowako memproduksi nikel dalam bentuk matte dengan kandungan nikel hingga 78%. Nikel dalam bentuk matte ini biasanya memiliki kandungan nikel antara 30% dan 60%, menurut asosiasi produsen nikel global Nickel Institute.

Secara umum, Vale menguasai proses produksi dari awal hingga akhir termasuk di Indonesia. Perusahaan pertambangan ini berinvestasi di bisnis logistik dan energi. Untuk logistik, misalnya, perseroan mengintegrasikan penambangan dengan transportasi seperti kapal dan pelabuhan untuk mendukung pengiriman bijih.

Dari sisi energi, Vale memasok listrik secara mandiri untuk kegiatan produksinya. Di Indonesia, misalnya, Vale Indonesia mengelola tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kabupaten Luwu Timur dengan total kapasitas 365 megawatt (MW). Hal ini menunjukkan bahwa 94% konsumsi energi pabrik pengolahan berasal dari energi terbarukan.